Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Gambar dan Lukisan Antik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gambar dan Lukisan Antik. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2020

Lukisan Mooi Indie Asli Karya "Frederik Kasenda" Tahun 1939






Lukisan Mooi Indie Asli Karya "Frederik Kasenda" Tahun 1939

Lukisan ini adalah asli karya Maestro ternama "Frederik Kasenda" pada masa Hindia Belanda. Tema pemandangan pada masa itu terkenal dengan sebutan Mooi Indie. Memiliki ukuran Frame 59cm x 72cm dan Ram kanvas 49cm x 62cm. Kondisi lukisan masih tampak baik, layak pajang dan koleksi.

Berikut adalah informasi Pelukis "Frederik Kasenda" :

Frederik Kasenda adalah seorang pelukis terkenal di masa Kolonial Belanda, yang terlahir dengan bakat alamiah. Lahir di  Remboken, Minahasa pada 31 Mei 1891. Pernah melukis potret Chiang Kai-Shek dan Dr. Sun Yat Sen, dua tokoh revolusioner Tiongkok Modern.

Waktu itu Chiang Kai-Shek (lahir 31 Oktober 1887) adalah seorang tokoh Partai Kuomintang (KMT). Sun Yat Sen adalah tokoh pemimpin besar Tiongkok. Ia pejuang revolusioner untuk Tiongkok modern yang meninggal pada tahun 1925. Posisinya lalu digantikan oleh Chiang Kai-Shek. Rupanya, tole Minahasa ini menggagumi dua tokoh itu. 

Meski lebih terobsesi melukis landscape, dan pernah melukis dua tokoh besar tadi, Frederik Kasenda juga pernah melukis potret Ratu Wilhemina.

John Ernest Jasper  (1874 – 1945), seorang pegawai negeri yang memiliki minat pada seni dan kerajinan tangan ketika berkunjung ke Menado dan Minahasa ternyata sempat memperhatikan bakat Kasenda itu. Jasper rupanya tahu, Kasenda memiliki potensi menjadi pelukis hebat. Jasper lalu mengajaknya pergi ke Jawa untuk belajar. Pada tahun 1928 Jasper menjadi Gubernur Yogyakarta.

Ketika melakukan perjalanan di banyak tempat di nusantara, termasuk di wilayah Utara Sulawesi: Minahasa, Sangihe, Talaud dan sekitar sekira tahun 1904 sampai 1907 Jasper ditemani Mas Pirngadie seorang pelukis Jawa. Mas Pirngadie lahir Desember 1878 di desa Pakirangan Purbalingga Jawa Tengah.

“Ngawi adalah tempat pertama di mana Kasenda mendirikan studionya. Dia kemudian pindah ke Kediri, ke Madiun,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad edisi Sabtu, 3 Januari 1942. Di Ngawi, Jawa Timur Kasenda menemukan guru lukisnya. Sebelumnya dia sudah belajar beberapa bulan.

“Ia terkenal karena karya bentang alamnya, terutama di Jawa dan Bali, sementara di samping itu beberapa cityscapes Singapura dibuatnya olehnya,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad.

Kasenda adalah pelukis yang khas. “Terkadang dia nakal, terkadang lembut, kadang romantis dan sentimental, terkadang rumit,” tulis De Indische Courant edisi 19 Maret 1935 dalam artikel berjudul Kunst of Geen Kunst.

Karya Kasenda kelak dihargai sangat mahal. Lukisan-lukisannya menampilkan keindahan alam nusantara. Ada lukisan tentang sawah dengan padi yang menguning. Sungai dengan gunung yang tampak dari kejauhan. Ada pula pura di Bali waktu malam. Kasenda akrab dengan kehidupan orang-orang biasa dan alam yang perawan.

Tapi ia juga melukis orang-orang hebat. Juga melukis kota dengan bangunan-bangunan modern.

“Terkadang dia mengingatkan orang primitif dan terkadang kepada para futuris,” demikian komentar penulis di  De Indische Courant. 

Kasenda dikagumi, tapi ia juga dikritik. Seorang yang lahir dari bakat alami, dan pergi dengan karya-karya yang mengagumkan.

Pada hari pertama tahun 1942 (1 Januari) setelah menderita sakit beberapa bulan, Frederik Kasenda meninggal di Batavia pada usia 53 tahun.

Semasa hidupnya, Kasenda adalah seorang yang memiliki empati pada perjuangan. Ia memiliki perasaan mendalam dan solidaritas bagi orang-orang Cina dalam perjuangan mereka melawan Jepang.

“Dia mengadakan pameran di Singapura beberapa tahun yang lalu, yang hasilnya seluruhnya diserahkan kepada Dana Bantuan Tiongkok. Pameran ini sukses besar,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad.

Artikel ini berdasarkan informasi dari penulis Denni H.R. Pinontoan.

Lukisan saat didapat masih dalam kondisi berdebu dan sudah saya bersihkan seadanya dengan kuas. Tampak gambar lukisan yang sudah terlihat retak seribu tipis karena termakan usia.

Saya mendapatkan barang ini dari sebuah rumah tua peninggalan jaman Belanda, yang dihuni oleh keluarga dari Majoor Batavia ke - 4.

Berdasarkan informasi dari cucu pemilik barang tersebut yang telah berusia 80 tahun lebih menceritakan bahwa, lukisan ini dahulu pernah menjadi koleksi leluhurnya dimasa Hindia Belanda.

Keterangan : SOLD OUT (Terimakasih Bp. WM - Kolektor Jakarta)

Lukisan Buah Asli Karya "Frederik Kasenda" Tahun 1934








Lukisan Buah Asli Karya "Frederik Kasenda" Tahun 1934

Lukisan ini adalah asli karya Maestro ternama "Frederik Kasenda" pada masa Hindia Belanda. Tema Buah yang dilukisnya sangat jarang dibuat bahkan hampir tidak ada

Saya berpikir kemungkinan lukisan ini dibuat atas permintaan pelanggan yang dekat dengan beliau, karena biasa Frederik Kasenda banyak melukis tema Pemandangan, yang pada masa Hindia Belanda dikenal dengan sebutan Mooi Indie. 

Lukisan memiliki ukuran Frame 79,5cm x 62,5cm dan Ram kanvas 63,5cm x 47,5cm. Kondisi lukisan ada sedikit rusak karena termakan usia seperti tampak pada gambar diatas, namun demikian masih layak pajang dan koleksi.

Berikut adalah informasi Pelukis "Frederik Kasenda" :

Frederik Kasenda adalah seorang pelukis terkenal di masa Kolonial Belanda, yang terlahir dengan bakat alamiah. Lahir di  Remboken, Minahasa pada 31 Mei 1891. Pernah melukis potret Chiang Kai-Shek dan Dr. Sun Yat Sen, dua tokoh revolusioner Tiongkok Modern.

Waktu itu Chiang Kai-Shek (lahir 31 Oktober 1887) adalah seorang tokoh Partai Kuomintang (KMT). Sun Yat Sen adalah tokoh pemimpin besar Tiongkok. Ia pejuang revolusioner untuk Tiongkok modern yang meninggal pada tahun 1925. Posisinya lalu digantikan oleh Chiang Kai-Shek. Rupanya, tole Minahasa ini menggagumi dua tokoh itu. 

Meski lebih terobsesi melukis landscape, dan pernah melukis dua tokoh besar tadi, Frederik Kasenda juga pernah melukis potret Ratu Wilhemina.

John Ernest Jasper  (1874 – 1945), seorang pegawai negeri yang memiliki minat pada seni dan kerajinan tangan ketika berkunjung ke Menado dan Minahasa ternyata sempat memperhatikan bakat Kasenda itu. Jasper rupanya tahu, Kasenda memiliki potensi menjadi pelukis hebat. Jasper lalu mengajaknya pergi ke Jawa untuk belajar. Pada tahun 1928 Jasper menjadi Gubernur Yogyakarta.

Ketika melakukan perjalanan di banyak tempat di nusantara, termasuk di wilayah Utara Sulawesi: Minahasa, Sangihe, Talaud dan sekitar sekira tahun 1904 sampai 1907 Jasper ditemani Mas Pirngadie seorang pelukis Jawa. Mas Pirngadie lahir Desember 1878 di desa Pakirangan Purbalingga Jawa Tengah.

“Ngawi adalah tempat pertama di mana Kasenda mendirikan studionya. Dia kemudian pindah ke Kediri, ke Madiun,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad edisi Sabtu, 3 Januari 1942. Di Ngawi, Jawa Timur Kasenda menemukan guru lukisnya. Sebelumnya dia sudah belajar beberapa bulan.

“Ia terkenal karena karya bentang alamnya, terutama di Jawa dan Bali, sementara di samping itu beberapa cityscapes Singapura dibuatnya olehnya,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad.

Kasenda adalah pelukis yang khas. “Terkadang dia nakal, terkadang lembut, kadang romantis dan sentimental, terkadang rumit,” tulis De Indische Courant edisi 19 Maret 1935 dalam artikel berjudul Kunst of Geen Kunst.

Karya Kasenda kelak dihargai sangat mahal. Lukisan-lukisannya menampilkan keindahan alam nusantara. Ada lukisan tentang sawah dengan padi yang menguning. Sungai dengan gunung yang tampak dari kejauhan. Ada pula pura di Bali waktu malam. Kasenda akrab dengan kehidupan orang-orang biasa dan alam yang perawan.

Tapi ia juga melukis orang-orang hebat. Juga melukis kota dengan bangunan-bangunan modern.

“Terkadang dia mengingatkan orang primitif dan terkadang kepada para futuris,” demikian komentar penulis di  De Indische Courant. 

Kasenda dikagumi, tapi ia juga dikritik. Seorang yang lahir dari bakat alami, dan pergi dengan karya-karya yang mengagumkan.

Pada hari pertama tahun 1942 (1 Januari) setelah menderita sakit beberapa bulan, Frederik Kasenda meninggal di Batavia pada usia 53 tahun.

Semasa hidupnya, Kasenda adalah seorang yang memiliki empati pada perjuangan. Ia memiliki perasaan mendalam dan solidaritas bagi orang-orang Cina dalam perjuangan mereka melawan Jepang.

“Dia mengadakan pameran di Singapura beberapa tahun yang lalu, yang hasilnya seluruhnya diserahkan kepada Dana Bantuan Tiongkok. Pameran ini sukses besar,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad.

Artikel ini berdasarkan informasi dari penulis Denni H.R. Pinontoan.

Lukisan saat didapat masih dalam kondisi berdebu dan sudah saya bersihkan seadanya dengan kuas. Tersimpan lama digudang tanpa dipajang ditembok rumah.

Saya mendapatkan barang ini dari sebuah rumah tua peninggalan jaman Belanda, yang dihuni oleh keluarga dari Majoor Batavia ke - 4.

Berdasarkan informasi dari cucu pemilik barang tersebut yang telah berusia 80 tahun lebih menceritakan bahwa, lukisan ini dahulu pernah menjadi koleksi leluhurnya dimasa Hindia Belanda.

Keterangan : SOLD OUT (Terimakasih Bp. WM - Kolektor Jakarta)

Selasa, 07 April 2020

Gambar Lithograph Kaum Bangsawan Cina Peranakan Circa 1854











Gambar Lithograph Kaum Bangsawan Cina Peranakan Circa 1854

Gambar design seperti ini biasa dikenal dengan nama Lithograph (Litografi) atau ada juga yang menyebutnya Engraving. Teknik mencetak dengan batu atau Litografi ditemukan pada tahun 1796, adalah cetak batu, sebuah metode untuk percetakan di atas permukaan licin. Sedangkan Engraving dengan pelat logam yang mulai diperkenalkan pada tahun 1790, adalah teknik seni grafis dengan membuat sayatan kedalam pelat logam yang menahan tinta dan membentuk gambar yang dicetak.

Untuk gambar Lithograph/Engraving yang saya miliki ini adalah asli dibuat pada era kolonial Belanda pada tahun 1854. Hal tersebut dapat diketahui dari kertas tersebut yang jika diterawang terdapat nama kota "Rotterdam", dan tercantum tahun pembuatan "1854", serta "Lambang/Logo Kerajaan Belanda" dengan gambar Mahkota dan sepasang Singa, seperti tampak pada gambar dibawah ini :




Pada gambar tersebut tampak para kaum bangsawan keturunan Cina Peranakan seperti sedang menari dengan pakaian kebesarannya. Bagian sebelah kiri gambar terdapat nama artis "E. Ronjat" yang membuat gambar tersebut. E Ronjat lahir pada tahun 1822 dan meninggal pada tahun 1912. Untuk bagian gambar sebelah kanan bawah adalah nama judul gambar tersebut. Nama artis pembuat gambar dan judul gambar dapat dilihat pada gambar diatas sebelumnaya.

Gambar Lithograph ini pada masa itu diperkirakan adalah sebuah pesanan dari petinggi atau kaum bangsawan dari kerajaan Belanda, Hal tersebut dimungkinkan karena pada kertas terdapat watermark lambang atau logo kerajaan Belanda. Berikut dibawah ini adalah beberapa contoh gambar Lithograph/Engraving karya E. Ronjat :






Kondisi gambar Lithograph/Engraving ini masih layak pajang dan koleksi. Sebuah gambar yang sudah berumur seratus enam puluh tahun lebih dan memiliki nilai sejarah tersendiri. Saat awal mendapatkannya kondisi gambar tesebut sedikit melekat pada kertas hardboard dibelakangnya. Namun akhirnya perlahan dapat saya lepaskas walaupun ada sedikit membekas pada bagian belakang kertas gambar tersebut, namun tidak merusak gambar yang ada. Kondisi tampak seperti gambar dibawah ini :






Gambar Lithograph/Engraving ini memiliki ukuran kertas lebih kurang panjang 39cm dan lebar 27,5cm. Untuk gambarnya sendiri memiliki ukuran lebih kurang panjang 32,5 cm dan lebar 22,5cm. Dan untuk ukuran framenya sendiri kurang lebih memiliki panjang 45cm dan lebar 35cm.

Frame yang ada adalah bukan merupakan frame lama bawaan dari awal, dan masih dalam kondisi baik. Bahan terbuat dari kayu lapis gypsum dengan cat berwarna hitam. Sungguh suatu gambar yang mengandung nilai seni tinggi dimasanya, antik, langka dan layak untuk dijadikan barang koleksi.

Keterangan : SOLD OUT

Minggu, 15 Maret 2020

Lukisan Baba Nyonya Antik












Lukisan Baba Nyonya Antik

Lukisan yang dibuat sekitar tahun 1800an ini biasa dikenal dengan nama Lukisan Baba Nyonya. Disebut demikian dikarenakan didapatnya langsung sepasang (Pria dan Wanita).

Sebagai gambaran saja untuk mendapatkan lukisan dengan jumlah sepasang ini biasanya sangat jarang ditemukan, umumnya hanya salah satu saja (prianya saja atau wanitanya saja). 

Untuk gambar Baba Nyonya pada umumnya juga yang biasa kita temukan adalah foto Conte (sebuah foto hitam putih yang ditambahkan warna dibagian permukannya dengan cara ditusir atau dilukis dengan menggunakan pensil berwarna) atau foto hitam putih saja. Jarang yang kita dapatkan dalam bentuk lukisaan seperti ini, dan ada juga kita temukan dalam bentuk lithography atau engraving.

Pada lukisan tersebut tampak Baba dan Nyonya yang sudah lanjut usia, mengenakan baju kebesaran yang merupakan ciri khas bangsawan Cina Peranakan dimasa lalu. Berdasarkan informasi dan bukti sejarah yang ada, lukisan pria tersebut diatas ternyata adalah seorang Major keturunan Cina Peranakan bernama Tan Eng Goan yang berkuasa pada masa Kolonial Belanda di Batavia (sekarang Jakarta). Pada tahun 1837 Tan Eng Goan diangkat sebagai Majoor der Chinezen di Batavia.

Ahli waris yang berdomisili di Jakarta dari keluarga Tan Eng Goan yang sudah berusia sekitar tujuh puluh tahunan ini, berdasarkan informasi bercerita bahwa leluhurnya yang merupakan buyutnya adalah seorang Kapitan dan kemudian menjadi Major pada masa Kolonial Belanda. 

Tercantum nama Tan Eng Goan - Batavia pada bagian belakang kertas lukisan

Lukisan Baba Nyonya ini adalah barang terakhir yang dilepas oleh pemiliknya, dan 
sebelumnya ada beberapa barang cina peranakan yang sudah dilepas, diantaranya adalah sepasang kursi teh kayu suanci dengan kimo2 kerang yang menghiasi pada sepasang kursi tersebut, sepasang kursi teh beserta mejanya dengan bahan kayu suanci, satu set meja sembahyang bahan kayu suanci, lemari cuiho terawangan, tempat abu dan lainnya. 

Berikut adalah informasi sejarah dari Major Tan Eng Goan di Batavia :

Tan Eng Goan (1802 - 1872)

Tan Eng Goan, Majoor der Chinezen (lahir di Batavia pada tahun 1802 - meninggal di Batavia pada tahun 1872) adalah seorang petinggi birokrat yang pertama kali menjabat sebagai Majoor der Chinezen di Batavia (sekarang Jakarta), ibu kota kolonial Indonesia. Ini adalah peringkat tertinggi bagi orang China di pemerintahan sipil dari Hindia Belanda.


Majoor Tan Eng Goan berasal dari keluarga tua dari Cabang Atas, atau Cina bangsawan dari penjajahan Jawa. Banyak anggota keluarganya menjabat sebagai pejabat China dalam pemerintahan kolonial. Dia adalah anak dari Kapitein Tan Peng Long (Luitenant di Batavia dari tahun 1792-1809 dan Kapitein 1809-1812), dan keponakan dari Kapitein Tan Yap Long (ditunjuk Luitenant pada tahun 1810, dan Kapitein di 1811).


Sebagaimana pejabat Cina lainnya, ia mendapatkan titel 'Sia' sejak lahir hingga ia diangkat menjadi Luitenant pada tahun 1827. Pada tahun 1829, ia menggantikan Ko Tiang Tjong sebagai Kapitein der Chinezen di Batavia. Pada saat itu, posisi Kapitein der Chinese merupakan posisi tertinggi dalam administrasi kolonial bagi orang China. Pada tahun 1837, Kapitein Tan Eng Goan kembali naik jabatan ke posisi baru, yaitu Majoor der Chinezen di Batavia. Ia juga merupakan ketua dari Chinese Raad, badan pemerintahan China yang tertinggi untuk koloni tersebut.


Keluarganya memiliki particuliere land di Kramat, Tangerang. Dari tahun 1848 hingga tahun 1862, Majoor Tan Eng Goan juga memiliki serangkaian pachts atau pendapatan dari beragam hal seperti arak, rum, tembakau dan wayang. Meskipun ia mendapat kekayaan tersebut, ia sulit mempertahankannya karena gaya hidupnya yang merah, sebagaimana yang diharapkan dari Majoor der Chinezen.




Pada lukisan yang menjadi gambaran bukti sejarah diatas, tampak Tan Eng Goan pada masa muda sekitar lima puluh tahunan. Untuk lukisan yang saya miliki adalah Tan Eng Goan pada masa tuanya. Jika kita perhatikan warna kertas pada kedua lukisan Tan Eng Goan secara kebetulan memiliki warna yang kurang lebih mirip atau sama.

Kondisi lukisan ini masih sangat cukup baik, memiliki ukuran frame lebih kurang 60cm x 81cm dengan ukuran lukisan yang berbentuk oval lebih kurang 34cm x 46cm. Lukisan dibuat diatas kertas khusus yang diproduksi pada masa itu. 

Untuk kondisi frame yang berbahan kayu terdapat sedikit geripis dibeberapa sisi, dan cat pada lukisan kaca ada sebagian yang sudah terkelupas dibeberapa bagian karena termakan usia. Pada bagian belakang frame sudah diganti dengan kayu triplek baru, dikarenakan pada bagian belakang frame tersebut juga sudah rusak dimakan usia.

Sepasang lukisan ini masih sangat layak koleksi. Perlu saya informasikan juga bahwa usia dari lukisan ini sekitar seratus lima puluh tahunan. Sungguh merupakan barang berharga yang sangat bernilai, sekaligus mengandung nilai sejarah kehidupan para Bangsawan Peranakan Cina dimasa Kolonial Belanda.


Keterangan : Ex Koleksi Pribadi - SOLD OUT (Mr. NS - Semarang)

Jumat, 06 Juli 2018

Lukisan Kertas Antik Circa 1924







Lukisan Kertas Antik Circa 1924

Ini adalah sebuah karya seni lukis pada masa Hindia Belanda. Dibuat oleh seniman bernama Hung Shui Hoa pada tahun 1924. Lukisan ini asli bukan print. Menggunakan media kertas dengan gambarnya menggunakan cat.

Kondisi lukisan masih cukup baik dengan frame yang terlihat ada beberapa sudah terkelupas karena usia, seperti terlihat pada gambar. Pada belakang frame terdapat etiket atau label tempat dimana frame tersebut dibuat pada masa itu. Terdapat nama kota Purwokerto masih menggunakan ejaan lama dan nama toko juga masih menggunakan nama Belanda.

Ukuran frame lukisan tersebut lebih kurang 59,5cm x 41cm. Untuk gambar lukisan sendiri memiliki ukuran lebih kurang 35,5cm x 22cm. Sebuah karya seni lukis yang memiliki sejarah tersendiri dimasa kolonisl Belanda, layak untuk dijadikan barang koleksi dan sayang untuk dilewatkan.

Keterangan : SOLD OUT