Total Tayangan Halaman

Rabu, 28 Januari 2026

Sisipan Koran Berita Dalam Negeri "Hari Maulid Poetri Juliana" 29 April 1948

 


Dokumen berikut diatas adalah sisipan atau lampiran tambahan pada Koran (diserap dari bahasa Belanda Krant , yang sebelumnya dieja Courant ), yang Merujuk pada lembar berita atau surat kabar, yang dipublikasikan pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), di mana terbit pada tanggal 29 April 1948, tepat satu hari sebelum Hari Maulid atau Hari Ulang Tahun Putri Juliana ke-39, yang tepat jatuh pada tanggal 30 April 1948.

Putri Jualiana dengan nama lengkap Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina, lahir di Den Haag Belanda pada tanggal 30 April 1909, adalah Putri tunggal dari Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik. Ratu Wilhelmina pada saat itu adalah Ratu Belanda dari tahun 1890 hingga tahun 1948, dan menyerahkan kekuasannya pada Putri Juliana pada tanggal 6 September tahun 1948. Berkuasa selama hampir 58 tahun, menjadikan Monarki dengan masa pemerintahan terlama dalam sejarah Belanda.

Bagi saya sisipan Koran atau lampiran dokumen ini (sebutan bahasa Belanda nya Bijvoegsel ), adalah dokumen penting yang sangat langka dan sangat layak untuk dikoleksi.  Bijvoegsel yang secara harafiah berarti "lampiran" atau "sisipan", pada masa Hindia Belanda biasanya berisikan iklan tambahan, berita daerah yang lebih spesifik, atau pengumuman resmi pemerintah yang diselipkan di dalam surat kabar harian utama.

Menarik dari sisipan ini adalah berita utama yang diumumkan atau diberitahukan keesokan harinya, pada tanggal 30 April 1948 adalah hari ulang tahun Putri Juliana, dimana pada tahun yang sama juga saat terbitnya sisipan tersebut, Putri Juliana diangkat menjadi Ratu Belanda pada bulan September tahun 1948. Bagi saya pribadi, peristiwa ini diibaratkan merupakan menjadi kado terbesar bagi beliau, dengan diangkatnya menjadi Ratu Belanda.

Hal yang menarik juga bagi saya, sisipan dokumen ini terbit pada masa RIS. Republik Indonesia Serikat (RIS) adalah sebuah Negara Federal yang berumur pendek, di mana Belanda resmi secara mengalihkan kedaulatan Hindia Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, setelah Konferensi Meja Bundar. Penyerahan ini mengakhiri konflik selama lebih kurang empat tahun, antara kaum Nasionalis Indonesia dan Belanda untuk menguasai Indonesia, yang akhirnya Republik Indonesia Serikat berganti nama menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berikut dibawah adalah halaman pertama berita dari sisipan Koran tersebut, diamana berita lainnya juga terdapat informasi mengenai peringatan satu tahun berdirinya daerah Kalimantan Barat.





Berikut dibawah adalah berita halaman kedua dari sisipan Koran tersebut. Berita utamanya adalah Penobatan Wali Negara Pasundan, dan selanjutnya juga ada berita mengenai Konfrensi Negara Indonesia Serikat yang akan diadakan pada bulan Mei 1948.





Hal mengenai Ratu Julia dari beberapa informasi lain yang saya dapatkan, bahwa dia adalah seorang Ratu yang fenomenal dan disegani hingga masa orang tuanya. Kisah Ratu Juliana menjadi salah satu potret kepemimpinan Monarki yang berpijak pada efisiensi dan dedikasi. Ia dikenal sebagai sosok yang hangat, rendah hati dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tulus. Sebagai seorang Ratu bukanlah sekedar gelar, tetapi cerminan perjuangan dan pengabdian terhadap rakyat.

Pada tanggal 27 Desember 1949, Ratu Belanda Juliana meneken penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Republik Indonesia. Sebagai bagian dari pengakuan kedaulatan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Perjalanan Ratu Juliana juga mencatat momen penting saat ia mengunjungi Indonesia pada tahun 1971, lebih dari dua dekade setelah kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Kunjungan tersebut memiliki nilai historis dan emosional yang mendalam, karena menjadi simbol rekonsiliasi antara dua negara yang sempat berada dalam ketegangan panjang. Setelah berkuasa selama 32 tahun, pada tanggal 30 April 1980 Ratu Juliana menyerahkan kekuasannya pada Ratu Betrix Wilhelmina Armgard. Sejak saat itu beliau kembali hidup sebagai warga kerajaan biasa dengan gelar Putri Juliana, hingga pada tanggal 20 Maret 2004 Ratu Juliana wafat pada usia 94 tahun.

Demikian sedikit informasi mengenai sisipan dokumen yang saya miliki sebagai koleksi pribadi tersebut, dan semoga bisa menjadi sedikit catatan sejarah bagi masyarakat Indonesia. Merdeka!!

Selasa, 27 Januari 2026

Kain Batik Kartu Sang Priyayi Jawa

 

Foto Koleksi Pribadi

Foto diatas adalah seorang Priyayi Jawa, yang diperkirakan berasal dari Jawa Timur. Kata Priyayi sendiri mengandung arti golongan/sekelompok orang yang mempunyai kedudukan terhormat di tengah masyarakat, dalam hal ini karena mereka termasuk golongan keturunan Sultan atau Kaum Ningrat.

Kondisi foto beberapa bagian sudah tampak terkelupas karena usia, namun beruntung tidak mengurangi tampilannya, karena wajah dan kain batik yang dikenakan tidak ada terkelupas. Perkiraan foto tersebut diabadikan sekitar tahun 1900 awal.

Bagi saya foto ini terbilang sangat langka, dan sangat menarik untuk dikoleksi, karena kain batik tulis dengan motif bergambar Kartu yang dikenakan pada foto tersebut sangat jarang terlihat. Sampai saat ini tidak ada informasi sama sekali di media sosial, baik itu berupa arsip foto-foto lama dijaman Kolonial Belanda, ataupun juga contoh-contoh kain batik pada buku batik yang saya pernah miliki tidak sekalipun saya pernah melihatnya. 

Pada foto tersebut saya menyebutnya seorang Priyayi, karena dari penampilan pakaian orang tersebut seperti Beskap yang dikenakan, sandal (Trumpah) yang dikenakan dan lainnya menunjukkan sebagai seorang Kaum Ningrat. Dan untuk bisa berfoto dalam studio foto pada masa Kolonial Belanda hanya orang golongan tertentu sajalah biasanya yang dapat melakukannya, karena biaya foto yang terbilang mahal.

Berikut dibawah ini adalah gambaran foto-foto para Bangsawan Jawa pada masa itu :

Sumber informasi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Raden_Toemenggoeng_Danoediningrat_de_regent_van_Kediri_met_zijn_vrouw_TMnr_60020738.jpg

Foto diatas adalah gambaran kaum Ningrat Jawa "Raden Toemenggoeng Danoediningrat" de regent van Kediri. Foto diambil sekitar tahun 1920 - 1930an. Untuk Beskap yang dikenakan tampak terlihat sama dengan foto yang saya miliki, dan menariknya lagi properti kursi yang digunakan pada foto oleh istri beliau sama dengan properti kursi yang digunakan pada foto yang saya miliki.

Sumber informasi :
https://radarsurabaya.jawapos.com/kota-lama/775392685/bangsawan-zaman-dulu-sosok-dihormati-dan-punya-jabatan

Pada foto diatas tampak jenis sandal yang digunakan oleh kaum bangsawan Jawa lainnya, dan sandal jenis ini biasa disebut dengan Trumpah, dan sama dengan sandal yang dipakai oleh pria pada foto yang saya miliki.

Jenis Sandal Trumpah

Berikut dibawah adalah gambaran foto lengkap yang saya miliki :

Foto Koleksi Pribadi
Ukuran Foto 9,5cm x 6,5cm
Ukuran Board 16,5cm x 12cm


Pada board foto bagian kiri bawah terdapat nama Studio " Khoen Tjihiang" yang berada didaerah "Tjantian" kota Soerabaia (Surabaya pada saat ini). Daerah "Tjantian" dari informasi yang saya dapatkan termasuk dalam wilayah Pecinan Lama kota Surabaya. Pada masa Kolonial Belanda kawasan "Tjantian" ini merupakan kawasan yang menjual barang-barang cantik seperti kain, kosmetik, bunga dan lainnya, dan inilah mengapa wilayah ini dinamakan "Tjantian", berasal dari kata Tjantik (Cantik).


Pada bagian kanan bawah terdapat huruf kanji, yang kemungkinan ini merupakan kata-kata syair.




Semua tulisan yang tercantum pada board foto tersebut berwarna emas, dan terdapat gambar motif daun dan bunga dengan tampilan emboss, sehingga hal ini menambah keanggunan tampilan dari foto tersebut. 

Sabtu, 10 Januari 2026

Prosesi Pemakaman Kaum Bangsawan Tionghoa (Peranakan Cina) Masa Kolonial Belanda

Dokumentasi berikut adalah foto-foto berharga, yang saya dapatkan sebagai gambaran mengenai prosesi pemakaman kaum bangsawan Tionghoa ( Perakan Cina)  pada masa Kolonial Belanda.

Foto Koleksi Pribadi
(telah terjual ke kolektor)
Ukuran Foto 23cm x 17,5cm
Ukuran Papan Karton 35,5cm x 30cm



Pada gambar di atas (gb.2) tampak sebuah foto seorang wanita yang terpajang didepan peti mati, dia adalah seorang istri petinggi Partai  Tionghoa Pertama di Indonesia Chung Hwa Hui ”, yang meninggal dunia pada tahun 1931.  Berdasarkan informasi yang saya dapatkan Partai "Chung Hwa Hui" berdiri pada tahun 1928, dan berakhir pada tahun 1942 pada saat Jepang datang menjajah Indonesia .


Foto Koleksi Pribadi
(telah terjual ke kolektor)
Ukuran Foto 23,5cm x 17,5cm
Ukuran Papan Karton 35,5cm x 30cm





Gambar berikut diatas adalah peti jenasah yang telah berlangganan dengan megahnya (gb.2), untuk siap dibawa ke tempat pemakaman, dan pada gambar terakhir (gb.4) dibagian paling kanan tampak seorang pria berkacamata mengenakan ikat kepala, dia tidak lain adalah suami dari wanita yang telah meninggal di dunia tersebut.


Foto Koleksi Pribadi
(telah terjual ke kolektor)
Ukuran Foto 23,5cm x 17,5cm
Ukuran Papan Karton 35,5cm x 30cm



Gambar berikut diatas adalah persiapan pawai iring-iringan dari tempat kediaman menuju tempat pemakaman.


Foto Koleksi Pribadi
(telah terjual ke kolektor)
Ukuran Foto 23cm x 17,5cm
Ukuran Papan Karton 35,5cm x 30cm




Gambar berikut diatas adalah pawai irin-iringan jenasah ketempat pemakaman, terlihat seperti pawai karnaval, memenuhi sebagian besar jalan. Besarnya iring-iringan menunjukkan seberapa terpandang dan berpengaruh orang yang meninggal tersebut. 

Prosesi pemakaman jenasah masyarakat golongan atas yang besar seperti ini memang terlihat unik, karena dari prosesi ini kita dapat melihat stratifikasi sosial masyarakat,  dan seringkali prosesi pemakaman jenasah seperti ini menjadi tontonan masyarakat luas dimasa itu. Bagi saya ini dapat catatan menjadi sejarah budaya, karena iring-iringan ketempat pemakaman seperti ini dimasa Kolonial Belanda mungkin tidak akan pernah kita lihat lagi pada masa sekarang ini.


Foto Koleksi Pribadi
(telah terjual ke kolektor)
Ukuran Foto 23cm x 17,5cm
Ukuran Papan 35cm x 30cm




Gambar berikut diatas adalah foto keluarga setelah prosesi pemakaman jenasah. Pengambilan foto seperti berada dihalaman rumah kediaman bangsawan tersebut. Pada baris ketiga pada foto (gb.2) yang saya cropping  agar terlihat lebih dekat, tampak di bagian sebelah kanan baris ketiga pria berdasi yang mengenakan jas adalah suami dari istri yang telah meninggal dunia.

Pada papan karton foto terdapat keterangan tanggal, bulan dan tahun yaitu " 28 Juni 1931" , menjelaskan waktu dimana foto tersebut diabadikan, dan sekaligus menjelaskan tanggal, bulan dan tahun dimana sang istri dimakamkan. Dan di bagian bawahnya terdapat keterangan Tahun Cina "2402 Gouw Gwee Tjap Sha 2082", yang tidak lain adalah menyebutkan tahun kelahiran dan tahun kematian sang istri (lahir tahun 1851 dan meninggal tahun 1931), sehingga dapat disimpulkan bahwa istri bangsawan tersebut meninggal dunia diusia 80 tahun. Pada bagian sudut bawah foto terdapat nama Thio Piek , yang tidak lain adalah nama sebuah studio foto yang berada di kota Bogor, atau Buitenzorg sebutannya di masa Kolonial Belanda .

Berikutnya untuk foto-foto dokumentasi dibawah ini adalah sebagai keterangan tambahan untuk menunjukkan status sosial dari kaum Bangsawan Tionghoa (Peranakan Cina) tersebut.

Foto Koleksi Pribadi
Ukuran Foto 20,5cm x 15cm
Ukuran Papan 31cm x 23,5cm



Pada bagian belakang foto terdapat nama fotografer dan nama kotanya "Batavia"

Foto berikut diatas adalah foto baba nyonya, kaum bangsawan Peranakan Cina, anggota Partai "Chung Hwa Hui". Tampak beliau dan istri foto bersama dengan pelayannya, dan kemungkinan besar foto ini diabadikan pada saat awal beliau menikah. Tampak pada gambar rumah yang begitu besar dengan halamannya yang luas, dan mungkin saja foto tersebut sengaja diabadikan dengan pemandangan seperti ini, untuk menggambarkan statusnya sebagai seorang bangsawan pasa masa itu.


Foto Koleksi Pribadi
(telah terjual ke kolektor)
Ukuran Foto 29cm x 23cm
Ukuran Papan 41cm x 34cm



Foto berikut diatas adalah foto beliau dan istri bersama dengan keluarga. Gambar diabadikan dihalaman depan rumah tersebut. Tampak beliau berdiri ada dibarisan ketiga, dibelakang sebelah paling kanan dari tiga pria yang tampak pada foto, dan istri tampak pada foto dibarisan paling depan, duduk dibangku kedua dari kiri.


Foto Koleksi Pribadi
(telah terjual ke kolektor)
Ukuran Foto 29cm x 23cm
Ukuran Papan 45cm x 35cm


Foto berikut di atas adalah foto bersama beliau dan istri, dengan seorang pejabat tinggi, dan kemungkinan besar seorang Kapitan Majoor (jabatan tinggi yang ditunjuk oleh pemerintah kerajaan pribumi, dan pemerintahan Kolonial Belanda bagi masyarakat Tionghoa).  Tampak pada foto beliau berdiri dibelakang, ditengah-tengah antara sang Majoor bersama istrinya. Untuk istri beliau duduk tepat di samping sang Majoor. 

Pada foto Sang Majoor tampak mengenakan lencana di sebelah dada kirinya, yang menandakan beliau adalah pejabat tinggi, serta simbol kepangkatan yang tersemat di bahu kanan dan kirinya. 

Foto Koleksi Pribadi
(telah terjual ke kolektor)
Ukuran Foto 23cm x 17cm
Ukuran Papan 34cm x 28,5cm



Foto berikut adalah foto beliau bersama istri dan keluarga, dalam perayaan Pernikahan ke-25 tahun (1900-1925), yang biasa disebut dengan Ulang Tahun Pernikahan Perak. Tampak pada foto beliau dan istri bersama anak kecil ditengahnya. Sayang foto ini saya dapat dalam keadaan sedikit rusak.


Foto Koleksi Pribadi
(telah terjual ke kolektor)
Ukuran Foto 29cm x 23cm
Ukuran Papan 45cm x 35cm




Foto berikut diatas adalah beliau bersama para pengurus, pimpinan dan anggota partai Tionghoa "Chung Hwa Hui". Tampak beliau difoto yang saya berikan tanda lingkaran putih. Di bagian paling depan, ditengah-tengah adalah Putri Juliana, anak tunggal dari Ratu Wilhelmina. Pada foto Putri Juliana tampak ditengah yang mengenakan topi. Foto ini dibuat pada tanggal 15 Oktober 1937 di Buitenzorg (sebutan untuk Kota Bogor pada masa itu).

Demikian dokumentasi ini saya buat untuk sedikit menggambarkan kehidupan dan prosesi pemakaman salah satu kaum bangsawan Tionghoa di Indonesia pada masa Kolonial Belanda. Semoga dokumentasi ini dapat bermanfaat, dan sekedar memberikan sedikit catatan sejarah bagi kita semua.