Total Tayangan Halaman

Minggu, 15 Maret 2020

Lukisan Baba Nyonya Antik












Lukisan Baba Nyonya Antik

Lukisan yang dibuat sekitar tahun 1800an ini biasa dikenal dengan nama Lukisan Baba Nyonya. Disebut demikian dikarenakan didapatnya langsung sepasang (Pria dan Wanita).

Sebagai gambaran saja untuk mendapatkan lukisan dengan jumlah sepasang ini biasanya sangat jarang ditemukan, umumnya hanya salah satu saja (prianya saja atau wanitanya saja). 

Untuk gambar Baba Nyonya pada umumnya juga yang biasa kita temukan adalah foto Conte (sebuah foto hitam putih yang ditambahkan warna dibagian permukannya dengan cara ditusir atau dilukis dengan menggunakan pensil berwarna) atau foto hitam putih saja. Jarang yang kita dapatkan dalam bentuk lukisaan seperti ini, dan ada juga kita temukan dalam bentuk lithography atau engraving.

Pada lukisan tersebut tampak Baba dan Nyonya yang sudah lanjut usia, mengenakan baju kebesaran yang merupakan ciri khas bangsawan Cina Peranakan dimasa lalu. Berdasarkan informasi dan bukti sejarah yang ada, lukisan pria tersebut diatas ternyata adalah seorang Major keturunan Cina Peranakan bernama Tan Eng Goan yang berkuasa pada masa Kolonial Belanda di Batavia (sekarang Jakarta). Pada tahun 1837 Tan Eng Goan diangkat sebagai Majoor der Chinezen di Batavia.

Ahli waris yang berdomisili di Jakarta dari keluarga Tan Eng Goan yang sudah berusia sekitar tujuh puluh tahunan ini, berdasarkan informasi bercerita bahwa leluhurnya yang merupakan buyutnya adalah seorang Kapitan dan kemudian menjadi Major pada masa Kolonial Belanda. 

Tercantum nama Tan Eng Goan - Batavia pada bagian belakang kertas lukisan

Lukisan Baba Nyonya ini adalah barang terakhir yang dilepas oleh pemiliknya, dan 
sebelumnya ada beberapa barang cina peranakan yang sudah dilepas, diantaranya adalah sepasang kursi teh kayu suanci dengan kimo2 kerang yang menghiasi pada sepasang kursi tersebut, sepasang kursi teh beserta mejanya dengan bahan kayu suanci, satu set meja sembahyang bahan kayu suanci, lemari cuiho terawangan, tempat abu dan lainnya. 

Berikut adalah informasi sejarah dari Major Tan Eng Goan di Batavia :

Tan Eng Goan (1802 - 1872)

Tan Eng Goan, Majoor der Chinezen (lahir di Batavia pada tahun 1802 - meninggal di Batavia pada tahun 1872) adalah seorang petinggi birokrat yang pertama kali menjabat sebagai Majoor der Chinezen di Batavia (sekarang Jakarta), ibu kota kolonial Indonesia. Ini adalah peringkat tertinggi bagi orang China di pemerintahan sipil dari Hindia Belanda.


Majoor Tan Eng Goan berasal dari keluarga tua dari Cabang Atas, atau Cina bangsawan dari penjajahan Jawa. Banyak anggota keluarganya menjabat sebagai pejabat China dalam pemerintahan kolonial. Dia adalah anak dari Kapitein Tan Peng Long (Luitenant di Batavia dari tahun 1792-1809 dan Kapitein 1809-1812), dan keponakan dari Kapitein Tan Yap Long (ditunjuk Luitenant pada tahun 1810, dan Kapitein di 1811).


Sebagaimana pejabat Cina lainnya, ia mendapatkan titel 'Sia' sejak lahir hingga ia diangkat menjadi Luitenant pada tahun 1827. Pada tahun 1829, ia menggantikan Ko Tiang Tjong sebagai Kapitein der Chinezen di Batavia. Pada saat itu, posisi Kapitein der Chinese merupakan posisi tertinggi dalam administrasi kolonial bagi orang China. Pada tahun 1837, Kapitein Tan Eng Goan kembali naik jabatan ke posisi baru, yaitu Majoor der Chinezen di Batavia. Ia juga merupakan ketua dari Chinese Raad, badan pemerintahan China yang tertinggi untuk koloni tersebut.


Keluarganya memiliki particuliere land di Kramat, Tangerang. Dari tahun 1848 hingga tahun 1862, Majoor Tan Eng Goan juga memiliki serangkaian pachts atau pendapatan dari beragam hal seperti arak, rum, tembakau dan wayang. Meskipun ia mendapat kekayaan tersebut, ia sulit mempertahankannya karena gaya hidupnya yang merah, sebagaimana yang diharapkan dari Majoor der Chinezen.




Pada lukisan yang menjadi gambaran bukti sejarah diatas, tampak Tan Eng Goan pada masa muda sekitar lima puluh tahunan. Untuk lukisan yang saya miliki adalah Tan Eng Goan pada masa tuanya. Jika kita perhatikan warna kertas pada kedua lukisan Tan Eng Goan secara kebetulan memiliki warna yang kurang lebih mirip atau sama.

Kondisi lukisan ini masih sangat cukup baik, memiliki ukuran frame lebih kurang 60cm x 81cm dengan ukuran lukisan yang berbentuk oval lebih kurang 34cm x 46cm. Lukisan dibuat diatas kertas khusus yang diproduksi pada masa itu. 

Untuk kondisi frame yang berbahan kayu terdapat sedikit geripis dibeberapa sisi, dan cat pada lukisan kaca ada sebagian yang sudah terkelupas dibeberapa bagian karena termakan usia. Pada bagian belakang frame sudah diganti dengan kayu triplek baru, dikarenakan pada bagian belakang frame tersebut juga sudah rusak dimakan usia.

Sepasang lukisan ini masih sangat layak koleksi. Perlu saya informasikan juga bahwa usia dari lukisan ini sekitar seratus lima puluh tahunan. Sungguh merupakan barang berharga yang sangat bernilai, sekaligus mengandung nilai sejarah kehidupan para Bangsawan Peranakan Cina dimasa Kolonial Belanda.


Keterangan : Ex Koleksi Pribadi - SOLD OUT (Mr. Novel Sungkar - Semarang)