Total Tayangan Halaman

Kamis, 27 Juni 2019

Meja Teh Sutra Ambon Antik


















Meja Teh Sutra Ambon Antik

Meja Teh dengan design eropa ini adalah peninggalan jaman Kolonial Belanda. Kondisi original, masih dapat digunakan dan  layak koleksi. Roda pada bagian bawah meja terbuat dari bahan porselen berwarna coklat tua.

Bahan meja dibuat dari bahan kayu yang tergolong langka dan berkualitas tinggi. Biasa kita kenal dengan sebutan Sutra Ambon. Tentu saja perabot seperti ini pada masa lalu digunakan oleh kaum ningrat atau bangsawan pada masa itu.

Design cara pembuatannya pun sangat indah dan klasik. Motif ukiran terlihat sangat halus dengan model kaki binatang pada bagian bawah kaki meja menambah nuansa kokoh dan berkelas.

Ukuran meja ini memiliki dimensi lebih kurang tinggi 57cm, lebar samping 50cm dan lebar muka 70cm. Untuk tatakan saji terbuat dari satu papan kayu dengan ukuran panjang 68cm dan lebar 46cm (kondisi ada sedikit retak oleh karena pemakaian dan usia seperti terlihat pada gambar diatas).

Antik dan Langka menarik untuk dijadikan barang koleksi sekaligus dapat menghiasi ruangan dirumah anda yang bergaya vintage.

Keterangan : SOLD OUT

Antique Wash Basin & Pitcher - BONN Germany Circa 1885 - 1920


















Antique Wash Basin & Pitcher - BONN Germany Circa 1885 - 1920

Ini adalah barang antik era kolonial Belanda yang digunakan untuk cuci tangan dan cuci muka. Biasa diletakkan didalam kamar tidur atau bisa juga dekat dengan ruang makan. Bahan terbuat dari porcelain dengan kondisi sebagian sudah retak seribu, dan hal tersebut bisa terjadi karena termakan usia.

Berdasarkan informasi marking BONN dengan logo Benteng tersebut adalah produksi tahun 1885 s/d 1920.



Standing pada baskom adalah bukan bawaan dari awal dan saya dapat sudah demikian. Untuk ukuran diameter bibir baskom lebih kurang 41cm dan tinggi baskom 12cm. Untuk teko tinggi lebih kurang 24cm dan perut teko diameter 17cm. Untuk standingnya tinggi lebih kurang 74cm (diukur dari ring tatakan), dan diameter ring tatakan 34cm.

Untuk mendapatkan baskom dan teko lengkap seperti ini sangat sulit ditemukan, karena mungkin juga sudah langka keberadaannya.

Antik dan langka, serta layak menjadi barang koleksi. Menarik untuk menghiasai ruang rumah anda yang bergaya vintage.

Keterangan : SOLD OUT

Senin, 17 Juni 2019

Foto Pakubuwana X dan Istri












Foto Pakubuwana X dan Istri

Foto ini adalah foto asli Pakubuwana X dengan istri pertama bernama Bandara Raden Ajeng Sumarti (puteri Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati Mangkunegara IV),  dan istri kedua bernama Gusti Raden Ayu Mursudarinah (puteri dalem Sri Sultan Hamengku Buwono VII).

Khusus foto sepasang Pakubuwono X dan istri kedua, tekstur gambar foto mirip seperti lukisan, dimana biasa dikenal dengan sebutan foto Conte. Untuk foto istri pertama terdapat nama studio foto dan nama kota "Charls & Co Semarang". Pada bagian belakang foto tersebut terdapat tulisan akasara jawa dan nama kota "Batavia" dan tahun "1893". Diperkirakan foto tersebut diambil pada tahun 1893 dan dicetak di kota Batavia pada tahun tersebut.

Untuk foto Pakubuwono X dan istri kedua, frame foto dan mat board bukan bawaannya (bukan barang lama), tetapi untuk logo Kraton pada frame bagian atas adalah asli barang lama. Untuk foto istri pertama Pakubowono X, frame foto dan mat board adalah asli bawaannya. Ukuran foto Pakubuwono X dan istri kedua adalah lebih kurang 14cm x 9cm dan frame ukuran 51,5cm x 39cm. Untuk ukuran foto istri pertama 16,5cm x 11cm dan frame ukuran 19cm x 13,5cm.


Berikut adalah sejarah singkat Pakubuwana X :

Masa pemerintahan Pakubuwana X ditandai dengan kemegahan tradisi dan suasana politik kerajaan yang stabil.

Pada masa pemerintahannya yang cukup panjang, Kasunanan Surakarta mengalami transisi, dari kerajaan tradisional menuju era modern, sejalan dengan perubahan politik di Hindia Belanda. Meskipun berada dalam tekanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda, Pakubuwana X memberikan kebebasan berorganisasi dan penerbitan media massa. Ia mendukung pendirian organisasi Sarekat Islam, salah satu organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia I di Surakarta (1938) diadakan pada masa pemerintahannya. Infrastruktur modern kota Surakarta banyak dibangun pada masa pemerintahan Pakubuwana X, seperti bangunan Pasar Gede, Stasiun Solo Jebres, Stasiun Solo-Kota (Sangkrah), Stadion Sriwedari, kebun binatang (Taman Satwataru) Jurug, Jembatan Jurug yang melintasi Bengawan Solo di timur kota, Taman Balekambang, gapura-gapura di batas Kota Surakarta, rumah pemotongan hewan ternak di Jagalan, rumah singgah bagi tunawisma, dan rumah perabuan (pembakaran jenazah) bagi warga Tionghoa.

Dia meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 1939. Ia disebut sebagai Sunan Panutup atau raja besar Surakarta yang terakhir oleh rakyatnya. Pemerintahannya kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana XI.

Pada buku Keraton Kasunanan yang saya miliki ini terdapat foto istri pertama Pakubuwana X yang dikoleksi oleh pihak KITLV Belanda. Perbedaan pada foto dengan foto koleksi pribadi saya hanya pakaian yang dikenakannya saja. Untuk property dan background yang digunakan sama dengan foto yang saya miliki.




Foto istri pertama Pakubuwana X koleksi KITLV Belanda

Foto istri kedua Pakubuwana X dan putrinya
Gusti Raden Ayu Sekar Kadhaton Kustiyah.


Semua foto tersebut diatas layak menjadi barang koleksi dan sekaligus bukti sejarah masa kejayaan Keraton Kasunanan Surakarta saat kepemimpinan Sri Susuhunan Pakubuwana X yang memerintah pada tahun 1893 s/d 1939 (lahir 29 November 1866 dan wafat 22 Februari 1939).

Keterangan : Private Collection - Sold to Collectors (Thanks Bpk. Fr - Bks)