Total Tayangan Halaman

Kamis, 22 Oktober 2020

Sendok Perak 'Holland" Antik Circa 1920-1931





















Sendok Perak "Holland" Antik Circa 1920-1931

Sendok ini asli barang tua yang beredar pada masa Kolonial Belanda. Terbuat dari bahan perak dengan kadar 830, dan berat keseluruhan adalah 187,5 gram. Kondisi sudah terlihat patina pada fisiknya, dan masih tampak baik serta layak untuk menjadi barang koleksi.

Jumlah sendok lengkap ada 12 buah, dan terdapat figure musisi pada pegangan sendok. Ukuran sendok panjang lebih kurang sekitar 11,5cm dan lebar sendok 2,5cm. Pada sendok terdapat marking Holland, kadar perak serta pabrikan pembuatnya dengan simbol BKV (untuk Indonesia) dan KBV (untuk Eropa), yang memiliki arti dari kepanjangan Kempen & Begeer & Vos. 

Dari informasi yang ada disebutkan bahwa sendok dengan marking tersebut dibuat pada tahun 1920 s/d 1931, seperti keterangan pada gambar dibawah ini :


Antik, Unik dan Langka. Menarik untuk dijadikan barang koleksi.

Keterangan : SOLD OUT

Senin, 19 Oktober 2020

Lukisan Mooi Indie Asli Karya "Frederik Kasenda" Tahun 1939






Lukisan Mooi Indie Asli Karya "Frederik Kasenda" Tahun 1939

Lukisan ini adalah asli karya Maestro ternama "Frederik Kasenda" pada masa Hindia Belanda. Tema pemandangan pada masa itu terkenal dengan sebutan Mooi Indie. Memiliki ukuran Frame 59cm x 72cm dan Ram kanvas 49cm x 62cm. Kondisi lukisan masih tampak baik, layak pajang dan koleksi.

Berikut adalah informasi Pelukis "Frederik Kasenda" :

Frederik Kasenda adalah seorang pelukis terkenal di masa Kolonial Belanda, yang terlahir dengan bakat alamiah. Lahir di  Remboken, Minahasa pada 31 Mei 1891. Pernah melukis potret Chiang Kai-Shek dan Dr. Sun Yat Sen, dua tokoh revolusioner Tiongkok Modern.

Waktu itu Chiang Kai-Shek (lahir 31 Oktober 1887) adalah seorang tokoh Partai Kuomintang (KMT). Sun Yat Sen adalah tokoh pemimpin besar Tiongkok. Ia pejuang revolusioner untuk Tiongkok modern yang meninggal pada tahun 1925. Posisinya lalu digantikan oleh Chiang Kai-Shek. Rupanya, tole Minahasa ini menggagumi dua tokoh itu. 

Meski lebih terobsesi melukis landscape, dan pernah melukis dua tokoh besar tadi, Frederik Kasenda juga pernah melukis potret Ratu Wilhemina.

John Ernest Jasper  (1874 – 1945), seorang pegawai negeri yang memiliki minat pada seni dan kerajinan tangan ketika berkunjung ke Menado dan Minahasa ternyata sempat memperhatikan bakat Kasenda itu. Jasper rupanya tahu, Kasenda memiliki potensi menjadi pelukis hebat. Jasper lalu mengajaknya pergi ke Jawa untuk belajar. Pada tahun 1928 Jasper menjadi Gubernur Yogyakarta.

Ketika melakukan perjalanan di banyak tempat di nusantara, termasuk di wilayah Utara Sulawesi: Minahasa, Sangihe, Talaud dan sekitar sekira tahun 1904 sampai 1907 Jasper ditemani Mas Pirngadie seorang pelukis Jawa. Mas Pirngadie lahir Desember 1878 di desa Pakirangan Purbalingga Jawa Tengah.

“Ngawi adalah tempat pertama di mana Kasenda mendirikan studionya. Dia kemudian pindah ke Kediri, ke Madiun,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad edisi Sabtu, 3 Januari 1942. Di Ngawi, Jawa Timur Kasenda menemukan guru lukisnya. Sebelumnya dia sudah belajar beberapa bulan.

“Ia terkenal karena karya bentang alamnya, terutama di Jawa dan Bali, sementara di samping itu beberapa cityscapes Singapura dibuatnya olehnya,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad.

Kasenda adalah pelukis yang khas. “Terkadang dia nakal, terkadang lembut, kadang romantis dan sentimental, terkadang rumit,” tulis De Indische Courant edisi 19 Maret 1935 dalam artikel berjudul Kunst of Geen Kunst.

Karya Kasenda kelak dihargai sangat mahal. Lukisan-lukisannya menampilkan keindahan alam nusantara. Ada lukisan tentang sawah dengan padi yang menguning. Sungai dengan gunung yang tampak dari kejauhan. Ada pula pura di Bali waktu malam. Kasenda akrab dengan kehidupan orang-orang biasa dan alam yang perawan.

Tapi ia juga melukis orang-orang hebat. Juga melukis kota dengan bangunan-bangunan modern.

“Terkadang dia mengingatkan orang primitif dan terkadang kepada para futuris,” demikian komentar penulis di  De Indische Courant. 

Kasenda dikagumi, tapi ia juga dikritik. Seorang yang lahir dari bakat alami, dan pergi dengan karya-karya yang mengagumkan.

Pada hari pertama tahun 1942 (1 Januari) setelah menderita sakit beberapa bulan, Frederik Kasenda meninggal di Batavia pada usia 53 tahun.

Semasa hidupnya, Kasenda adalah seorang yang memiliki empati pada perjuangan. Ia memiliki perasaan mendalam dan solidaritas bagi orang-orang Cina dalam perjuangan mereka melawan Jepang.

“Dia mengadakan pameran di Singapura beberapa tahun yang lalu, yang hasilnya seluruhnya diserahkan kepada Dana Bantuan Tiongkok. Pameran ini sukses besar,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad.

Artikel ini berdasarkan informasi dari penulis Denni H.R. Pinontoan.

Lukisan saat didapat masih dalam kondisi berdebu dan sudah saya bersihkan seadanya dengan kuas. Tampak gambar lukisan yang sudah terlihat retak seribu tipis karena termakan usia.

Saya mendapatkan barang ini dari sebuah rumah tua peninggalan jaman Belanda, yang dihuni oleh keluarga dari Majoor Batavia ke - 4.

Berdasarkan informasi dari cucu pemilik barang tersebut yang telah berusia 80 tahun lebih menceritakan bahwa, lukisan ini dahulu pernah menjadi koleksi leluhurnya dimasa Hindia Belanda.

Keterangan : SOLD OUT (Terimakasih Bp. WM - Kolektor Jakarta)

Lukisan Buah Asli Karya "Frederik Kasenda" Tahun 1934








Lukisan Buah Asli Karya "Frederik Kasenda" Tahun 1934

Lukisan ini adalah asli karya Maestro ternama "Frederik Kasenda" pada masa Hindia Belanda. Tema Buah yang dilukisnya sangat jarang dibuat bahkan hampir tidak ada

Saya berpikir kemungkinan lukisan ini dibuat atas permintaan pelanggan yang dekat dengan beliau, karena biasa Frederik Kasenda banyak melukis tema Pemandangan, yang pada masa Hindia Belanda dikenal dengan sebutan Mooi Indie. 

Lukisan memiliki ukuran Frame 79,5cm x 62,5cm dan Ram kanvas 63,5cm x 47,5cm. Kondisi lukisan ada sedikit rusak karena termakan usia seperti tampak pada gambar diatas, namun demikian masih layak pajang dan koleksi.

Berikut adalah informasi Pelukis "Frederik Kasenda" :

Frederik Kasenda adalah seorang pelukis terkenal di masa Kolonial Belanda, yang terlahir dengan bakat alamiah. Lahir di  Remboken, Minahasa pada 31 Mei 1891. Pernah melukis potret Chiang Kai-Shek dan Dr. Sun Yat Sen, dua tokoh revolusioner Tiongkok Modern.

Waktu itu Chiang Kai-Shek (lahir 31 Oktober 1887) adalah seorang tokoh Partai Kuomintang (KMT). Sun Yat Sen adalah tokoh pemimpin besar Tiongkok. Ia pejuang revolusioner untuk Tiongkok modern yang meninggal pada tahun 1925. Posisinya lalu digantikan oleh Chiang Kai-Shek. Rupanya, tole Minahasa ini menggagumi dua tokoh itu. 

Meski lebih terobsesi melukis landscape, dan pernah melukis dua tokoh besar tadi, Frederik Kasenda juga pernah melukis potret Ratu Wilhemina.

John Ernest Jasper  (1874 – 1945), seorang pegawai negeri yang memiliki minat pada seni dan kerajinan tangan ketika berkunjung ke Menado dan Minahasa ternyata sempat memperhatikan bakat Kasenda itu. Jasper rupanya tahu, Kasenda memiliki potensi menjadi pelukis hebat. Jasper lalu mengajaknya pergi ke Jawa untuk belajar. Pada tahun 1928 Jasper menjadi Gubernur Yogyakarta.

Ketika melakukan perjalanan di banyak tempat di nusantara, termasuk di wilayah Utara Sulawesi: Minahasa, Sangihe, Talaud dan sekitar sekira tahun 1904 sampai 1907 Jasper ditemani Mas Pirngadie seorang pelukis Jawa. Mas Pirngadie lahir Desember 1878 di desa Pakirangan Purbalingga Jawa Tengah.

“Ngawi adalah tempat pertama di mana Kasenda mendirikan studionya. Dia kemudian pindah ke Kediri, ke Madiun,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad edisi Sabtu, 3 Januari 1942. Di Ngawi, Jawa Timur Kasenda menemukan guru lukisnya. Sebelumnya dia sudah belajar beberapa bulan.

“Ia terkenal karena karya bentang alamnya, terutama di Jawa dan Bali, sementara di samping itu beberapa cityscapes Singapura dibuatnya olehnya,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad.

Kasenda adalah pelukis yang khas. “Terkadang dia nakal, terkadang lembut, kadang romantis dan sentimental, terkadang rumit,” tulis De Indische Courant edisi 19 Maret 1935 dalam artikel berjudul Kunst of Geen Kunst.

Karya Kasenda kelak dihargai sangat mahal. Lukisan-lukisannya menampilkan keindahan alam nusantara. Ada lukisan tentang sawah dengan padi yang menguning. Sungai dengan gunung yang tampak dari kejauhan. Ada pula pura di Bali waktu malam. Kasenda akrab dengan kehidupan orang-orang biasa dan alam yang perawan.

Tapi ia juga melukis orang-orang hebat. Juga melukis kota dengan bangunan-bangunan modern.

“Terkadang dia mengingatkan orang primitif dan terkadang kepada para futuris,” demikian komentar penulis di  De Indische Courant. 

Kasenda dikagumi, tapi ia juga dikritik. Seorang yang lahir dari bakat alami, dan pergi dengan karya-karya yang mengagumkan.

Pada hari pertama tahun 1942 (1 Januari) setelah menderita sakit beberapa bulan, Frederik Kasenda meninggal di Batavia pada usia 53 tahun.

Semasa hidupnya, Kasenda adalah seorang yang memiliki empati pada perjuangan. Ia memiliki perasaan mendalam dan solidaritas bagi orang-orang Cina dalam perjuangan mereka melawan Jepang.

“Dia mengadakan pameran di Singapura beberapa tahun yang lalu, yang hasilnya seluruhnya diserahkan kepada Dana Bantuan Tiongkok. Pameran ini sukses besar,” tulis Bataviaasch Nieuwsblad.

Artikel ini berdasarkan informasi dari penulis Denni H.R. Pinontoan.

Lukisan saat didapat masih dalam kondisi berdebu dan sudah saya bersihkan seadanya dengan kuas. Tersimpan lama digudang tanpa dipajang ditembok rumah.

Saya mendapatkan barang ini dari sebuah rumah tua peninggalan jaman Belanda, yang dihuni oleh keluarga dari Majoor Batavia ke - 4.

Berdasarkan informasi dari cucu pemilik barang tersebut yang telah berusia 80 tahun lebih menceritakan bahwa, lukisan ini dahulu pernah menjadi koleksi leluhurnya dimasa Hindia Belanda.

Keterangan : SOLD OUT (Terimakasih Bp. WM - Kolektor Jakarta)

Patung Buddha Meditasi dan Tertawa











Patung Buddha Meditasi dan Tertawa 

Patung Buddha ini terbuat dari bahan horn dan softstone. Kondisi masih sangat baik dan layak pajang. Memiliki tinggi masing-masing lebih kurang 10cm dan 5,5cm. Berdasarkan informasi patung tersebut memiliki makna tersendiri.

1. Meditating Buddha

Pose meditating Buddha ini paling banyak ditemukan di altar Buddha di rumah-rumah. Buddha dalam posisi duduk dengan kedua tangan dalam posisi meditasi yang disebut Mudra Kosmik. Kedua tangan saling tumpang tindih. Tangan kiri ditempatkan diatas tangan kanan, dengan ujung ibu jari saling menyerntuh membuat bentuk oval yang melambangkan refleksi.

Patung Buddha pose meditating seperti ini harus dihadapkan ke arah Timur, karena Buddha bermeditasi pada Matahari terbit untuk mencari pencerahan.

2. Laughing Buddha

Patung laughing Budhha adalah patung yang paling best seller dari semua pose patung Buddha. Pose ini dipercaya membawa keberuntungan, kemakmuran atau kelimpahan. Pose ini menggambarkan Buddha sebagai pribadi yang sangat bahagia, dan perut besarnya menyimbolkan hidup yang berkelimpahan berkat.

Saya mendapatkan barang ini bersama dengan barang lainnya dalam lemari yang terkunci tidak dapat terbuka, dari sebuah rumah tua di Jakarta dari keluarga Majoor Batavia ke - 4. Lemari terkunci karena disimpan oleh kakeknya, hingga wafat tidak diketahui oleh anak dan cucunya dimana kunci disimpan.


Posisi lemari saat masih dilokasi dan dalam kondisi terkunci

Berdasarkan informasi dari cucu pemilik barang tersebut yang telah berusia 80 tahun lebih, menceritakan ini dahulu adalah koleksi dari engkong atau kakeknya Teo Tek Kang yang lahir pada tahun 1866, yang tidak lain adalah adik dari Tio Tek Ho Majoor Batavia ke -4. Patung dengan ukuran kecil ini dikoleksi diperkirakan pada akhir tahun 1800an, atau awal tahun 1900an.

Antik, Unik dan Langka. Menarik untuk dijadikan barang koleksi.

Keterangan : SOLD OUT

Pajangan Figure Binatang Bahan Gading













Pajangan Figure Binatang Bahan Gading 

Figure binatang yang terbuat dari bahan gading ini berjumlah 11 (sebelas) items. Kondisi masih sangat baik dan layak pajang. Memiliki dimensi lebih kurang panjang dari 3 s/d 5cm x tinggi 2 s/d 3 cm x lebar 1cm.

Saya mendapatkan barang ini bersama dengan barang lainnya dalam lemari yang terkunci tidak dapat terbuka, dari sebuah rumah tua di Jakarta dari keluarga Majoor Batavia ke - 4. Lemari terkunci karena disimpan oleh kakeknya, hingga wafat tidak diketahui oleh anak dan cucunya dimana kunci disimpan.

Berdasarkan informasi dari cucu pemilik barang tersebut yang telah berusia 80 tahun lebih menceritakan ini dahulu adalah koleksi dari engkong atau kakeknya Teo Tek Kang yang lahir pada tahun 1866, yang tidak lain adalah adik dari Tio Tek Ho Majoor Batavia ke -4. Barang berbentuk figure binatang berukuran kecil ini dikoleksi diperkirakan pada akhir tahun 1800an, atau awal tahun 1900an.

Catatan : Perbedaan warna pada foto diatas antara figure binatang satu dengan lainnya adalah karena faktor pencahayaan saja (posisi binatang berdiri dengan posisi binatang terlentang).

Antik, Unik dan Langka. Menarik untuk dijadikan barang koleksi.

Keterangan : SOLD OUT